Jalan-jalan Iseng Menghabiskan Wiken di Las Vegas

December 30, 2017 wren 0

What happens in Vegas, stays in Vegas.” Pepatah sangat terkenal terkait sebuah kota di negara bagian Amerika Serikat yang terkenal dengan perjudiannya. Tapi kali ini saya harus melanggar pepatah tersebut karena saya harus bercerita tentang pengalaman seru saya bersama seorang teman ketika berkunjung ke Las Vegas, Nevada.

Sebetulnya tujuan pertama kami adalah untuk berkunjung ke sanak saudara kami yang merantau ke negeri Paman Sam, tapi karena kami punya banyak waktu untuk dihabiskan, jadi kami memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke “kota dosa” sambil menghabiskan akhir pekan.

wiken di las vegas

Saat itu bulan September, awal musim gugur kebetulan cuaca tidak terlalu dingin. Kami sampai di sana hari Sabtu sekitar pukul 9 pagi dan segera mengambil mobil yang telah kami sewa sebelumnya via online. Kebetulan kami dapat harga yang terbilang murah, cuma $8,25/hari untu sebuah mobil rental yang lumayan bagus. Kami tidak bisa langsung ke hotel yang telah kami pesan sebelumnya sampai jam 3 sore, jadi untuk sementara waktu kami keliling-keliling untuk menghabiskan waktu.

Setelah meninggalkan bandara, kami berkendara berkeliling vegas untuk melihat-lihat. Ketika perut terasa lapar, kami putuskan untuk berhenti sebuah restoran lokal cepat saji dan kembali lagi ke mall yang kami lihat sebelumnya saat berkeliling. Mall ini berada di bagian selatan kota. Kebetulan sedang banyak diskon yang gila-gilaan, 50%-75%! Belanja dulu!

Luxor Pyramid Hotel Las Vegas

Kamar Piramid Hotel Luxor

Selanjutnya kami hanya berkeliling dan sesekali berhenti untuk membeli cemilan sampai akhirnya kami bisa masuk ke kamar kami di hotel Luxor. Hotel yang indah dan lumayan penuh. Hotelnya cukup besar sampai kami harus tersesat beberapa kali saat mencari kamar tempat kami menginap. Ada beberapa kegiatan konstruksi yang terjadi tapi sama sekali tidak terdengar keributan. Saya sempatkan diri untuk berkeliling hotel dan melihat-lihat keadaan luar dan dalam hotel. Setelah hotel ini selesai dibangun, saya yakin akan tampak lebih indah.

Di hotel ini terdapat 4 kolam ronang yang terhubung satu sama lain dan bak air panas untuk para tamu, juga kolam dan bak pribadi untuk para tamu yang ‘membayar’. Kami menginap di kamar piramid. Cukup nyaman dan luas, semua furnitur bergaya mesir. Kamar mandinya besar tapi sayangnya tidak ada bathtub.

kamar di luxor pyramid hotel

Malamnya kami membeli tiket untuk menonton pertunjukan. Kami sedikit terlambat karena ternyata perjalanan dari hotel cukup jauh untuk sampai ke sana dan kami juga terjebak macet yang cukup parah! Sesampainya di tempat tujuan, kami sangat menikmati pertunjukan itu, dan semoga suatu saat bisa kembali lagi untuk menonton di sini.

Esok harinya kami putuskan untuk berkunjung ke Grand Canyon, salah satu keajaiban alam yang ada di negara bagian Nevada. Jujur, pemandangan di sini benar-benar menakjubkan, tapi akan lebih baik kalau tidak harus mendaki sampai kaki saya benar-benar sakit dan lecet. Kami pergi ke Eagle Point dan Guano Point. Berjalan di atas Glass Skywalk dan beberapa kali mengambil foto.

main poker di casino las vegas

Pengalaman Judi Pertama

Selanjutnya adalah hal yang paling ditunggu, mengunjungi kasino yang ada di Las Vegas. Kami bukan orang yang terbiasa dengan judi jadi kami hanya datang untuk sekedar melihat-lihat dan sedikit mencoba. Karena kami belum pernah bermain sebelumnya, kami lebih sering menonton orang bermain. Setelah kami rasa cukup mengerti dengan aturan mainnya, kami coba habiskan beberapa chips hanya untuk bersenang-senang.

Ternyata bermain judi tidak buruk juga. Sepulang dari sana saya cari-cari tahu tentang poker (sedikit ketagihan setelah bermain di kasino) dan akhirnya menemukan situs yang menawarkan permainan poker online. Dari situ saya coba belajar untuk bermain poker lebih baik, siapa tahu nanti saya bisa balik lagi ke Las Vegas dan bermain poker lagi di sana.

5 Kebiasaan di Amerika yang Berhasil Bikin Saya Gagap

December 25, 2017 wren 0

Culture shock, istilah ini sering digunakan untuk merujuk pada perasaan seperti terkejut ketika seseorang masuk ke lingkungan tertentu yang memiliki budaya yang berbeda. Hal seperti ini bisa sangat menyebalkan karena membuat kebingungan orang yang mengalaminya, dan di kasus ini, saya lah yang menjadi korban.

Saya mau cerita sedikit tentang pengalaman saya selama jadi mahasiswa di sebuah kampus di Amerika Serikat. Saat pertama datang ke negara ini, saya merasa benar-benar terkesima melihat beberapa hal yang tidak saya temukan sebelumnya ketika saya di Indonesia. Maklum, orang kampung yang tidak pernah kemana-mana dan cuma bisa gaul di sekitaran rumah.

Awal-awal kuliah di sana, saya lumayan kebingungan dengan beberapa kebiasaan yang orang Amerika lakukan. Meski hal sepele tapi lumayan bikin dahi mengernyit karena heran. Nah, buat kamu yang mau kuliah atau sekedar melancong ke negeri Paman Sam, mungkin cerita ini bakal bisa mengurangi rasa kaget kamu di sana.

minum selalu dengan es

Banyak Es di Hampir Setiap Minuman

Entah ada hubungan apa orang Amerika dengan es tapi mereka seperti terobsesi dengan benda dingin ini. Hampir setiap minuman (kecuali di musim dingin) mereka tambahkan, bukan hanya satu atau dua tapi setumpuk es batu! Saat saya tanya kenapa mereka memasukan banyak es ke minuman mereka hanya menjawab, “It’s refreshing. That’s the reason we drink, right?” (Es itu menyegarkan. Bukannya itu, ya, alasan kita minum?).

Ya, memang, sih, kita minum untuk menyegarkan tubuh tapi gak perlu sebanyak itu juga. Hadeuh!

labu kuning dimana-mana

Segala Olahan dari Labu Kuning

Ada satu lagi obsesi orang Amerika yang bikin saya gagal paham, obsesi mereka terhadap labu kuning. Buah kuning dan besar ini hampir dibuat menjadi segala jenis makanan. Kamu bisa menemukan sup, kue, cemilan, pie, semuanya terbuat dari labu kuning. Yang jadi masalah bukan karena makanan ini tidak enak, tapi bikin gagal paham adalah kenapa mereka memilih labu kuning sementara Amerika bukan penghasil labu kuning.

Bukan hanya labu, Amerika juga jadi salah satu pengkonsumsi kopi terbesar di dunia. Padahal untuk produsen terbesarnya sendiri, Brazil, tidak termasuk ke dalam 5 negara pengkonsumsi kopi terbanyak.

setir kiri di amerika

Setir Kiri

Untuk yang satu ini mungkin sudah tidak aneh, ya. Sudah jadi rahasia umum kalau beberapa negara di dunia memang menggunakan kendaraan roda empat dengan setir di sebelah kiri. Karena rancangan setir yang seperti ini, secara otomatis laju kendaraan pun berada di sisi yang sebaliknya. Kalau di Indonesia mobil akan melaju di jalur kiri, di Amerika jalur kiri hanya dipakai untuk menyalip kendaran.

Untuk saya yang sudah bertahun-tahun menyetir mobil waktu di Indonesia, tetap saja seperti belajar mobil lagi ketika harus menyetir di Amerika. Masih terbawa kebiasaan menyetir di jalur kiri, banyak orang Amerika yang menyangka saya membawa mobil dengan ugal-ugalan.

perbedaan sistem pengukuran

Sistem Imperial

Yang satu ini adalah hal yang paling menyebalkan yang pernah saya temui di Amerika. Sebagai mahasiswa teknik, sistem pengukuran akan selalu dilibatkan di dalam tiap urusan dan seakan sudah menjadi harga mati.  Di Indonesia kita semua sudah dimanjakan dengan sistem metrik dengan menggunakan meter, sentimeter, kilogram, dll. Semua itu menjadi kacau balau ketika kamu harus beradaptasi dengan sistem imperial yang digunakan oleh publik Amerika.

Kamu harus belajar untuk mengkonversi ukuran meter ke kaki, sentimeter ke inci, kilogram ke pounds, dll. Belum lagi penulisan tanggal yang dibulak-balik karena urutan menulis tanggal di Amerika adalah MM-DD-YY tidak seperti kebanyakan negara di dunia yang menggunakan format DD-MM-YY. Ah, sudahlah.

University of Hawaii: Buat Kamu yang Ingin Kuliah Rasa Liburan

December 21, 2017 wren 0

Ini sudah semester keempat atau tahun kedua kuliah saya di salah satu perguruan tinggi di Amerika, lebih tepatnya di negara bagian terbontot, Hawaii. Saya tidak mengganggap kuliah di sini sebagai kewajiban untuk belajar tapi lebih seperti liburan. Bagaimana tidak, kamu berada di sebuah tempat yang indah dengan pantai yang terbentang luas di sekeliling pulau.

Bukan berarti saya tidak belajar, hanya kamu akan seperti berada di surga liburan. Bayangkan, jika kamu biasanya kuliah untuk sepanjang tahun dan repot untuk mencari tempat liburan yang asik untuk menghilangkan kejenuhan. Di sini kamu dikelilingi tempat liburan sampai kamu bingung mencari semangat untuk berada di dalam kelas!

front yard university of hawaii

Berakhir di Hawaii

Kok, bagaimana ceritanya bisa sampai terdampar di Hawaii? Ceritanya dari 3 tahun yang lalu ketika saya ingin meneruskan studi saya setelah selesai menyelesaikan kuliah sarjana di Bandung. Seumur hidup saya tinggal di Bandung: lahir di Bandung, besar di Bandung, pacarana di Bandung, sampai akhirnya saya berpikir saya harus cari suasana baru untuk meneruskan hidup.

Tadinya saya tidak punya rencana untuk meneruskan studi. Selepas lulus kuliah, seperti mahasiswa kebanyakan, saya mulai memasuk-masukan CV ke beberapa perusahaan di beberapa kota. Sempat diterima di perusahaan di Jakarta namun hanya kuat bertahan 3 bulan setelah itu resign. Saya pulang lagi ke Bandung, mencoba mencari lagi peruntungan di kota kelahiran. Saya sempat bekerja untuk 2 perusahaan tapi saya tidak pernah betah bekerja lebih dari 4 bulan.

Saya sadar, saya merasa bosan. Saya butuh ruangan baru, udara baru, pemandangan baru agar saya bisa meneruskan hidup. Akhirnya saya coba untuk mencari pekerjaan di luar negeri. Singkat cerita, saya malah nyasar ke salah satu halaman beasiswa di Universitas yang ada di Amerika. Kok, bisa? Entahlah, saya lupa, tapi saya merasa ini jalan keluar saya.

Akhirnya saya coba cari-cari tahu info tentang beasiswa untuk mahasiswa pasca sarjana di Universitas yang ada di Amerika. Saya coba apply untuk beberapa beasiswa (karena saya tidak yakin kalau saya akan langsung diterima oleh satu peluang beasiswa) dan, voila, dua tahun lalu saya menerima kabar kalau saya diterima di Universitas yang lokasinya tidak saya duga-duga: Hawaii!

university of hawaii

Bagaimana Kalau Saya Juga Ingin Kuliah di Amerika?

Pertama, kamu harus percaya (ini pengalaman pribadi) untuk bisa kuliah di luar negeri tidak sesulit yang dibayangkan. Kamu mungkin merasa tidak percaya diri karena berasal dari negara berkembang sementara Amerika adalah negara yang maju tapi kamu gak usah khawatir, kalau kamu mau berusaha, kamu bisa mengimbangi kemampuan mereka.

Selanjutnya, tanya-tanya tentang beasiswa ke luar negeri ke sekolah almamater-mu. Kenapa? Karena kalau kampus atau sekolah kamu sudah bekerja sama dengan kampus luar, kemungkinan kamu diterima akan lebih besar.

Cari tahu juga persyaratan apa yang harus kamu penuhi, jangan cuma berpikir kamu akan dapat uang beasiswa dengan jumlah yang besar tapi kamu juga harus tahu tujuan kamu berkuliah di sana karena biasanya kamu tidak hanya berkuliah tapi juga punya misi yang harus kamu lakukan sampai selesai selama belajar di luar negeri.

Yang terakhir adalah yang paling simpel tapi banyak yang tersandung: TOEFL. Persyaratan yang ini bisa berbeda-beda (beberapa kampus meminta sertifikat IELTS) tapi yang pasti adalah nilai yang didapat harus di atas rata-rata. Kenapa, sih, harus ada persyaratan seperti ini? Ya, kalau kamu gak bisa ngomong bahasa Inggris terus mau ngobrol pake bahasa isyarat?

Setelah semua syarat terpenuhi, coba apply ke beberapa kampus yang menawarkan beasiswa. Semakin banyak beasiswa yang kamu ajukan, semakin besar kemungkinan kamu untuk mendapatkan beasiswa. Terus, ngapain masih di sini? Ayo coba sekarang juga!